DPRt APN Wonokromo Dipimpin Abdullah Amas
DEWAN Pimpinan Ranting Wonokromo, Surabaya dipimpin oleh Abdullah Amas sang Pendiri APN. Hal ini disampaikan oleh Plt Ketua Umum DPP APN DRH.
"Pendiri APN langsung yang memimpin APN Wonokromo"ujar DRH
Sementara itu Ketua DPRt APN Ranting Wonokromo Abdullah Amas menyebut APN adalah Ormas terbesar yang pernah dia pimpin dan dirikan serta menyita perhatian publik kala masa-masa awal berdiri.
"Meski sekarang sudah banyak ormas irisan seperti Amas Persada sebagai Puncak lalu Jaringan Abdullah Amas, S-AMAS (Sahabat Abdullah Amas) dan lainnya tetap APN meski kini menyepi tetap ada"tegas Amas yang masih diposisi Ketua Dewan Pendiri DPP APN ini.
APN menurut Amas harus terus diperkuat sampai tingkat Ranting bahkan anak ranting seperti di Bangkalan ada di DPARt IMC
Yuk simak ulasan lengkapnya!
MENDUNG tipis menggelayut di atas kawasan Wonokromo, Surabaya, pekan ini, namun riuh rendah perpolitikan lokal di tingkat akar rumput justru sedang hangat-hangatnya. Aliansi Pemuda Nasional (APN)—organisasi kemasyarakatan yang sempat menyita perhatian publik pada masa-masa awal pendiriannya—kembali melakukan manuver konsolidasi yang jamak dibilang tak biasa.
Alih-alih menempatkan figur lokal baru, pucuk pimpinan Dewan Pimpinan Ranting (DPRt) APN Wonokromo justru diambil alih langsung oleh sang mentor tertinggi: Abdullah Amas.
Langkah "turun gunung" ini dikonfirmasi langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APN, yang akrab disapa DRH. "Pendiri APN langsung yang memimpin APN Wonokromo," ujarnya saat dihubungi, memberikan konfirmasi pendek namun sarat sinyal taktis.
Bagi sebuah organisasi yang memiliki struktur hingga tingkat nasional, penunjukan seorang ketua dewan pendiri untuk menakhodai wilayah setingkat kelurahan (ranting) tentu mengundang tanya.
Amas sendiri santai saja,Ditemui di sela-sela kesibukannya, pria yang masih menjabat sebagai Ketua Dewan Pendiri DPP APN ini menegaskan bahwa APN memiliki ruang khusus dalam portofolio organisasinya. Bagi Amas, APN adalah legasi.
"Meski sekarang sudah banyak ormas irisan seperti Amas Persada sebagai puncak, lalu ada Jaringan Abdullah Amas, S-AMAS (Sahabat Abdullah Amas), dan lainnya, APN tetap punya tempat," tutur Amas retoris. Ia tak menampik bahwa intensitas publikasi APN belakangan meredup. "Tetap APN, meski kini menyepi, tetap ada."
Langkah memegang langsung Wonokromo tampaknya menjadi cetak biru (blueprint) baru bagi Amas untuk membuktikan bahwa mesin organisasi bawah tanahnya belum karat. Wonokromo, dengan karakteristik wilayahnya yang padat dan heterogen di Surabaya, dibidik menjadi laboratorium politik sosiologis bagi APN.
Target Amas tak main-main. Konsolidasi ini direncanakan bakal dipereras hingga menyentuh level sel terendah: anak ranting. Pola serupa, menurut dia, bahkan sudah mulai merembet ke wilayah Madura, seperti berdirinya Dewan Pimpinan Anak Ranting (DPARt) IMC di Bangkalan.
Di tengah menjamurnya organisasi taktis yang lahir menjelang momentum-momentum politik lokal, pilihan Amas untuk merawat APN dari tingkat ranting seolah ingin mengirim pesan: pengaruh nyata tidak dihitung dari megahnya aula kongres di Jakarta, melainkan dari seberapa kokoh kaki-kaki organisasi mencengkeram tanah gang-gang sempit perkampungan kota.
Comments
Post a Comment