Oleh: Abdullah Amas
“Tutup mata, maju, dan terjadilah apa yang akan terjadi!”
Kalimat itu bukan sekadar bumbu retorika, melainkan nyawa dari pergerakan seorang Fahd El Fouz A Rafiq. Di panggung politik yang sering kali terjebak dalam labirin dialektika intelektual dan tumpukan teori di atas meja, Fahd memilih jalan pintas yang ekstrem: lompatan kuantum. Ia tak butuh waktu lama untuk menimbang angin; begitu mesin dinyalakan, pilihannya hanya satu, yakni geber sampai tuntas.
Rekam jejaknya adalah bukti. Lihatlah bagaimana ia memoles AMPG, Gema MKGR, hingga ormas-ormas besar lainnya. Di tangannya, organisasi-organisasi ini tidak sekadar menjadi papan nama yang kaku, melainkan berubah menjadi mesin politik yang jauh lebih besar, dinamis, dan kompetitif. Fahd tidak sedang melakukan lari sprint yang melelahkan di awal lalu loyo di akhir; ia sedang berlari marathon—menjaga napas, ritme, namun tetap dengan kecepatan yang stabil di atas rata-rata.
Panglima di Medan Karya
Doktrin "Karya dan Kekaryaan" yang selama ini menjadi jualan utama kekuatan politik tengah, sejatinya memerlukan sosok King atau Panglima yang meyakinkan. Tanpa eksekutor yang berani, doktrin hanyalah teks usang di museum sejarah. Fahd memposisikan dirinya di sana—sebagai pemimpin lapangan yang mengingatkan kita pada heroisme Khalid bin Walid.
Ada filosofi menarik yang sering dikaitkan dengan gaya kepemimpinannya: ketimbang sibuk menghitung jumlah musuh yang tampak lebih besar dan membuat nyali menciut, lebih baik sibuk "menyembelih" tantangan itu satu per satu di lapangan. Fokusnya bukan pada hambatan, melainkan pada target yang harus diruntuhkan. Inilah yang membuat gerak Barisan Pemuda Nusantara (BAPERA) di bawah komandonya terasa begitu masif dan inklusif.
Mesin Panas di Bekasi
Fahd adalah sosok yang sudah "khatam" dengan urusan-urusan pribadi. Karena itu, orientasinya kini murni pada pergerakan. Dalam istilah lokal, ia dikenal "banter"—sangar, tangguh, dan tak kenal gigi mundur. Jika mesin sudah panas, ia akan memastikan setiap silinder bekerja maksimal.
Lihat saja bagaimana ia mengorkestrasi kemenangan di daerah pemilihan (Dapil) Bekasi. Fahd tidak hanya sekadar memberi instruksi dari balik meja, melainkan menggerakkan seluruh instrumen pemenangan untuk DPR-RI dengan mendorong kader terbaiknya, Ranny Fahd A Rafiq. Hasilnya? Efek kejut yang nyata. Ia membuktikan bahwa militansi yang dipadukan dengan manajemen organisasi yang rapi adalah kunci untuk menguasai medan pertempuran elektoral.
Bagi Fahd, politik bukan tempat untuk mereka yang ragu. Di BAPERA dan setiap gerak marathonnya, ia sedang mengirim pesan kuat: bahwa kerja nyata akan selalu bicara lebih keras daripada seribu diskusi yang tak kunjung usai.

Comments
Post a Comment