AKURAT INDONESIA WASPADAI ISLAMPHOBIA DI INDONESIA


 AKURAT INDONESIA WASPADAI ISLAMOPHOBIA DI INDONESIA


Soal Islamophobia menjadi masalah dunia sejak Perang Dingin Amerika Serikat-Uni Soviet berakhir di tahun 1981. Seiring memudarnya kekuatan sosialis komunis karena Uni Soviet terpecah menjadi 15 negara merdeka dan  terjadi interpretasi baru praktik ideologi sosialis komunis seperti yang dilakukan Cina dan Rusia. Barat dengan ideologi kapitalisme liberalisme menggunakan demokrasi sebagai penggerak telah menemukan lawan sepadan sebagai musuh bersama yang baru,yaitu Islam. Munculah monster baru dimana-mana dengan nama Islamophobia.Setelah dua dekade negara-negara dan bangsa muslim di dunia disudutkan dalam banyak tata pergaulan dunia, setidaknya Islam dituding sebagai penghambat demokrasi dan anti kemapanan dan selalu bila terjadi  tindakan kekerasan (terorisme), Islam menjadi tertuduh. Parahnya lagi  Islamophobia  dijadikan  sebagai pijakan pengambilan keputusan politik dan ekonomi  negara-negara di bawah komando AS . Sementara di kawasan selatan (negara berkembang), Islamophobia dijadikan isu untuk melumpuhkan kekuatan masyarakat madani dan politik identitas Islam di negaranya sendiri. Maka yang terjadi ketidakadilan dunia dalam memposisikan Islam. Apakah dengan skenario geopolitik seperti itu, Islam terlemahkan? Realitanya,dunia Islam terus menunjukan soliditasnya sebagai komunitas. Setidaknya itu dirasakan  di kawasan bekas super power dunia Uni Soviet dan Cina yang bisa lebih bersahabat dengan entitas muslim di Asia dan Afrika. 


Bagaimana saat ini? Benarkah dunia sedang memasuki era damai ? Sudahkah umat beragama dan antar umat beragama saling menghargai perbedaan dan menghormati? Tidak ada lagi penghinaan atas nama agama dan orang beragama? Sejumlah pertanyaan masih berderet panjang selama mengatasi Islamophobia diragukan komitmennya. 


Benar Amerika Serikat si "Raja Islamophobia" sudah sahkan UU Berantas Islamophobia.

Betul jugs Menteri Kehakiman Swedia telah keluarkan perintah tangkap semua penghina  Islam. Bahkan,PBB sudah  tetapkan 15 Maret 2022 sebagai Hari Anti Islamophobia.


Cukupkah itu sebagai jaminan tidak ada lagi Islamophobia? Atau kebijakan-kebijakan  di atas sekedar respon strategis karena konflik Rusia -Ukraina selama dua bulan ini, menunjukkan  tatanan dunia mulai berubah dan Barat menjadi gelisah dan gerah. Karena Rusia banyak didukung ummat Islam di dunia termasuk Indonesia.


Patut juga kita bertanya, bagaimana dengan Islamophobia di Indonesia? Hilangkah kecurigaan terhadap ummat beragama terutama kepada Islam? 

Ada apa Detasemen Khusus 88 Anti Teror atau Densus 88 Polri menyebut jaringan teroris Negara Islam Indonesia (NII) berupaya menggulingkan pemerintahan Presiden Joko Widodo  sebelum Pemilu 2024?


Mengapa kuasa hukum Ade Armando tanpa bukti  tuding kelompok radikal pemicu pengeroyokan.bagaimana juga dengan pendeta Saifuddin Ibrahim yang terus membuat geregetan publik, terutama kaum muslim. Ia tak henti-hentinya memproduksi video kontroversial yang menyinggung umat Islam. Apakah Pendeta Saifuddin Ibrahim adalah fenomena gunung es Islamophobia di Indonesia?


Untuk mengurai dan temukenali jawaban dari sederet pertanyaan, Akurat Indonesia kembali gelar "Kajian Publik" dengan tema "Islamophobia Islam di Indinesia Kapan Berakhir?"

Akurat menampilkan Pembicara yang berbasis penelitian akademik dan pelaku gerakan masyarakat madani dan  organisasi politik dengan platform ke Islaman, yaitu:

Zora A. Sukabdi.,Ph.D(Psikolog dan Dosen UI), Syifa Awalia,MM (Ketua STAI PTDI),Hamidah Yacoub (Ketua Muslimat Bulan Bintang)

,Risda Mardarina (Ketua Muslimat Masyumi),Ida Nurhaida Kusdianto (Presideum Aliansi Rakyat Menggugat),dan DR. Suhardi Somomoeljono,SH.,MH (Dir. Pascasarjana Univ. Matla'ul Anwar Banten dan Pembina Napi Teroris). Diskusi virtual lewat zoom pada Senin,25 April 2022 yang digelar pukul 20.00 wib akan dipimpin Malik Tudisi.


Menurut Sekretaris Jenderal Akurat Indonesia, Tumpal Daniel S kajian publik Akurat Indonesia, ditujukan mencari solusi  dari setiap isu-isu yang dapat mengganggu jalannya Republik ini dengan baik dan berpotensi memecah belah bangsa. Kajian di akhir Ramadhan 1443 H ini  terbuka untuk umum.

Comments